Home / Sejarah Shuttlecock / Industri Shuttlecock di Indonesia

Industri Shuttlecock di Indonesia

Shuttlecock Robinhood, mungkin terdengar asing di telinga Anda. Tapi, tentu tidak dengan Shuttlecock Gajahmada atau Shuttlecock Garuda. Sebenarnya, Shuttlecock Robinhood merupakan induk dari kedua merk shuttlecock tersebut. Shuttlecock Robinhood diproduksi pertama kali di Tegal sekitar tahun 1942. Produsennya merupakan perusahaan shuttlecock pertama di Indonesia. Hingga kini, perusahaan tersebut masih ada. Namun, sudah tidak lagi menggunakan merk Robinhood, melainkan sudah pecah menjadi 2 perusahaan berbeda; mereka mengembangkan merk Shuttlecock Gajahmada, Shuttlecock Garuda dan beberapa merk lain yang sukses di pasaran. Dalam perkembangan selanjutnya, usaha kerajinan yang mereka rintis itu telah menstimulus lahirnya sentra industri kerajinan shuttlecock yang menjadi ikon Kota Tegal.

Kini, kerajinan shuttlecock sudah menyebar di banyak kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beberapa kota yang menjadi sentra kerajinan shuttlecock antara lain: Solo, Nganjuk, Lamongan, Surabaya, Sidoarjo dan Malang. Berbeda dengan Tegal, Solo sejak awal lebih dikenal sebagai produsen shuttlecock bulu ayam. Sementara Tegal dan kota-kota lainnya memproduksi shuttlecock bulu itik yang merupakan jenis shuttlecock standar internasional.

Lebih jauh tentang asal mula industri shuttlecock di Jawa Timur, tidak banyak orang tahu bahwa cikal bakal usaha kerajinan shuttlecock justru dimulai di Kota Kediri pada tahun 1950-an. Disusul Malang dan Lamongan pada tahun yang hampir bersamaan. Berawal sebagai pengepul bulu itik dan pemasok bulu itik untuk Perusahaan Shuttlecock Gajahmada, Njo Gio Hai di tahun 50-an tersebut memulai produksi shuttlecock di Desa Kemasan, Kota Kediri. Hampir seluruh produksi disetor ke Tegal karena dia belum punya pasar sendiri. Berbeda dengan Kediri, Malang mampu menelurkan merk shuttlecock ternama, Shuttlecock London. Bahkan di era Tan Shio Hok, kala itu, Shuttlecock London mampu menjadi sponsor tunggal di Kejuaraan Asia. Pada tahun 1965 perusahaan shuttlecock yang dikelola Njo Gio Hai mengalami kebangkrutan dan memaksanya menganggur hingga beberapa tahun. Shuttlecock London mengalami nasib serupa. Demikian pula perusahaan yang ada di Lamongan.

Pada tahun 1967, bersama dengan Lim Hok Tian (Paman Rudi Hartono), Njo Gio Hai dan anaknya, Rudi Gunawan diminta membantu mendirikan perusahaan shuttlecock di Malang dengan merk Saxon dan mengantarkan merk tersebut hingga merajai pasar shuttlecock di Indonesia. Dua tahun bekerja di Saxon, Njo Gio Hai meninggal. Bersamaan dengan itu, Rudi Gunawan juga keluar dari Saxon dan mendirikan perusahaan sendiri dengan memproduksi merk Sparta.

Era bulu impor dimulai sekitar tahun 1970. Pada saat itu, eksportir bulu dari China mencoba membuka pasar di Indonesia. Perusahaan yang pertama dihubungi China adalah Saxon. Namun, karena terkendala bahasa (Lim Hok Tian tidak bisa bahasa Mandarin), Saxon menyerahkan urusan bulu impor tersebut pada Indocock, salah satu agennya yang ada di Surabaya. Tak berselang lama, Lim Hok Tian meninggal. Di tangan penerusnya, Saxon terus mengalami kemunduran. Kesempatan tersebut digunakan Indocock untuk membangun industri shuttlecock di Surabaya. Masuknya bulu impor juga mendorong tumbuhnya perusahaan shuttlecock di Malang, Lamongan, Gresik dan Nganjuk. Setidaknya, ada 2 perusahaan dengan merk terkenal yang lahir kala itu, yakni Shuttlecock Mikasa dan Nasional di Malang, Shuttlecock Java di Sidoarjo, Shuttlecock LA dan Rajawali di Lamongan dan Shuttlecock Memori dan Shuttlecock Kalimantan HB di Nganjuk.

Rudi Gunawan pindah dari Malang dan membawa perusahaannya ke Nganjuk pada tahun 1980. Pada saat yang sama, beberapa warga Nganjuk yang pernah bekerja di Mikasa, Nasional dan Indocock juga membawa pulang pengalaman kerja mereka untuk memulai usaha shuttlecock di kampung halamannya. Sementara itu, di Kediri juga muncul satu perusahaan shuttlecock yang didirikan oleh Tarmidi, mantan anak buah Njo Gio Hai. Usaha tersebut tak berlangsung lama. Di tahun 90 an, perusahaan tersebut berhenti produksi karena Tarmidi meninggal dan tidak ada anak yang mampu meneruskannya. Istri Tarmidi yang kini berusia 80 tahun sesekali masih mendapatkan pesanan shuttlecock dari pelanggan lama dengan produk shuttlecock yang dia ambil dari Nganjuk.

Saat ini jumlah perusahaan shuttlecock di Tegal, Solo, Malang, Sidoarjo, Surabaya dan Nganjuk sudah tak terhitung jumlahnya. Hampir 90% produksi shuttlecock menggunakan bulu impor dari China karena sediaan bulu lokal sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan shuttlecock nasional yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan permintaan.

Catatan:

Pernah dipresentasikan dalam ‘Pelatihan Shuttlecock di Dinkop Kota Blitar pada tanggal 29-31 Maret 2016

About Admin