Home / Sejarah Shuttlecock / Tegal, Cikal Bakal Bisnis Shuttlecock di Indonesia

Tegal, Cikal Bakal Bisnis Shuttlecock di Indonesia

Tahun 1920, pasangan pengantin baru Souw Wan Tjwan dan Liem Kim Hee dari Bumiayu ini suka menghabiskan waktu untuk bermain bulu tangkis. Saat itu harga shuttlecock sangat mahal dan merk di pasaran didominasi oleh Green Flash, Blue Bird dan Toyoda. Karena itu, keduanya memutuskan untuk membuat industri shuttlecock rumahan.
Awalnya, Ny. Souw menemukan entog mati hanyut di sungai belakang rumahnya. Lalu, dia cabuti bulu-bulunya untuk dia gunakan sebagai bahan praktek membuat shuttlecock. Usaha kecil mereka berdiri tahun 1934 dengan merk ‘Robin Hood’ yg secara resmi disahkan di depan notaris, R.M. Soedja pada April 14, 1939 di Purwokerto. Mereka kemudian bergabung dengan asosiasi perdagangan Nederlandsch Indische Industriele Company (NIIC) Fabrikante Van Badminton Shuttlecocks.
Souw dan Liem juga memproduksi berbagai merek shuttlecock seperti Flash Gordon, Mascot, Service, Panah, Golden Voice, Sea Gull dan Royal di bawah sertifikasi NIIC.
Setelah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, mereka pindah ke Tegal untuk pijakan posisi yang lebih baik. Souw meninggal pada tahun 1947 dan bisnis diteruskan anaknya Y.A. Setyoso (Souw Siauw Tiam).
Pada tahun 1956 Presiden Soekarno menerapkan undang-undang baru yang melarang penggunaan nama asing bagi merk produk lokal. Robin Hood ganti nama menjadi Garuda. Dan dinamika bisnis memaksa mereka untuk pecah kongsi jadi 2 perusahaan.
Selanjutnya, merk Gadjah Mada, diperkenalkan pada tahun 1970. Dua merk terkenal tsb, Garuda dan Gadjah Mada tetap diproduksi hingga sekarang,

Sumber:

https://www.facebook.com/shuttlecocknganjuk/posts/1314275675266293

About Admin